Jumat, 23 Agustus 2013

Logo Gerakan Pemuda


ARTI LOGO PELKAT GERAKAN PEMUDA


WARNA BIRU BENHUR
Biru Benhur berarti “Berani” dan “Setia”. Warna biru ini berasal dari warna api yang temperaturnya paling panas, lebih panas dari api berwarna merah atau kuning. Sehingga warna api biru ini menandakan semangat warna GP yang harus melampaui semangat yang pernah ada. Tentu saja, semangat ini harus disertai dengan kesetiaan. Karena warna biru pada api bisa timbul karena intensitas hembusan yang tinggi yang memungkinkan nyala apinya tetap konsisten.

BENTUK SEGITIGA
Segitiga menandakan Tri Darma Gereja, yakni tiga panggilan dan pengutusan gereja yang diejawantahkan melalui Persekutuan (Koinonia), Pelayanan (Diakonia), dan Kesaksian (Marturia). Segitiga mengarah ke bawah mengartikan bahwa ketiga pemanggilan dan pengutusan itu mesti dijalani dengan sikap rendah hati dan tunduk di bawah kuasa Tuhan.

GARIS SEGITIGA WARNA PUTIH
Warna putih menandakan kekudusan, kesucian yang harus menjadi garis yang jelas dan tegas, yang membedakan warga GP dengan kehidupan di luarnya. Kesucian Ilahi inilah yang memagari spiritualitas pemuda agar senantiasa menjaga dirinya tetap berada dalam rengkuhan Allah.

SALIB
Salib melambangkan keselamatan yang Tuhan anugerahkan melalui pengorbanan anakNya, Kristus Sang Pemuda Agung. Atas dasar keselamatan Allah inilah Pelkat GP GPIB bergerak, menyatakan ucapan syukur atas keselamatan yang diperoleh lewat tindakan nyata bagi kemuliaan Bapa di Surga.

ALKITAB
Alkitab melambangkan firman Tuhan yang senantiasa menjadi pedoman Pelkat GP dalam menjalankan tugas, panggilan dan pengutusannya. Dari firman Tuhan inilah setiap pemuda diharapkan semakin diperkaya oleh pemahaman yang utuh tentang kuasa kasih Tuhan.

1 KOR. 3: 11
“Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” Rasul Paulus menyatakan nats ini ketika hendak menunjukkan bahwa bangunan rohani harus memiliki dasar yang kokoh, dan disebutkan di sini bahwa dasar kokoh itu adalah Yesus Kristus, Kepala Gereja, Sang Pemuda Agung. Dari situlah Pelkat GP GPIB sebagai sebuah organisasi senantiasa mengutamakan Kristus dalam gerak pelayanannya, menjadikan dasar yang menopang dan menguatkan. Di luar itu Pelkat GP GPIB tak akan bisa berbuat banyak.

Sejarah singkat gedung gereja GPIB Immanuel

Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Jemaat Immanuel Makassar terletak di Jalan Balaikota No. 1 Makassar, atau berada di samping timur Gedung Balaikota Makassar.
Gereja ini merupakan salah satu dari sekian banyak arsitektur peninggalan kolonial Belanda di Makassar. Dalam Buku Laporan Kegiatan Peringatan 100 Tahun Gedung Gereja Immanuel Ujung Pandang 15 September 1885 – 1985 dikisahkan bahwa awalnya jemaat (gemeente) didirikan dengan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda pada 17 Oktober 1852. Jemaat ini merupakan bagian dari De Protestantsche Kerk in Nederlandsch Indie (Gereja Protestan di Hindia Belanda) atau yang biasanya disingkat “Indische Kerk”. Sama dengan induknya di Negeri Belanda, gereja ini merupakan gereja negara. Pendeta diberi gaji oleh pemerintah beserta dengan anggaran-anggaran lainnya yang digunakan untuk keperluan gereja.
Pada 15 September 1885, Pendeta J.C. Knuttel meresmikan pemakaian gedung gereja yang telah dibangun kembali dengan nama resminya “Prins Hendriks Kerk” (Gereja dari Pangeran Hendrik), namun umumnya disebut dengan “Protestantsche Kerk” (Gereja Protestan) atau “Grote Kerk” (Gereja Besar). Yang akhirnya, saat ini dikenal dengan nama Gereja Immanuel.
Pada tahun1933, Indische Kerk mengadakan Grote Vergadering (pertemuan raya) yang memutuskan supaya diusahakan pemisahan administatif antara gereja dan negara. Bagian Indische Kerk di Minahasa (yang kemudian bernama Gereja Masehi Injili Minahasa disingkat GMIM) mencapai pemisahan pada tahun 1934. Bagian Indische Kerk di Maluku (yang kemudian bernama Gereja Protestan Maluku disingkat GPM) mencapai hal serupa dengan GMIM pada tahun 1935, bersamaan dengan bagian Indische Kerk di sebelah barat (yang kemudian disebut sebagai Gereja Protestan Indonesia disingkat GPI). Bagian Indische Kerk di Timor yang kemudian disebut Gereja Masehi Injili Timor disingkat GMIT mendapatkannya pada tahun 1947. Dalam perkembangan selanjutnya, yaitu pada 31 Oktober 1948, bagian dari Indische Kerk di sebelah barat berdiri sendiri menjadi Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB). Lalu, GPI berubah hakikat menjadi suatu Sinode Am yang beranggotakan sinode GPIB, GMIT, dan GPM. Jemaat Immanuel Makassar, meskipun terletak di wilayah Indonesia Timur namun termasuk dalam wilayah pelayanan GPIB.

Pada tahun 1950, sinode-sinode tersebut betul-betul berdiri sendiri dengan terjadinya pemisahan keuangan antara gereja dan negara. Sejak berdirinya GPIB (1948), hanya terdapat satu Jemaat GPIB di Makassar.  Barulah pada tahun 1967 diputuskan untuk membagi jemaat yang wilayah pelayanannya sudah teramat luas ini menjadi 4 jemaat, yaitu Jemaat Immanuel, Bukit Zaitun, Bethania dan Mangamaseang. Pada tahun 1983, Jemaat GPIB di Makassar bertambah satu lagi, yaitu Jemaat Bahtera Kasih, sehingga seluruhnya hingga kini terdapat 5 jemaat.
Di seluruh Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra) terdapat 11 jemaat GPIB. Selain 5 jemaat di Makassar, masih terdapat jemaat GPIB di Pare-pare, Watampone, Majene, Kendari, Raba dan Bau-bau. Kesebelas jemaat ini sejak tahun 1978 dikoordinasikan kerjasamanya oleh suatu badan yang disebut musyawarah pelayanan (mupel) jemaat GPIB di wilayah Sulselra, yang biasa disingkat Mupel GPIB Sulselra. Badan ini merupakan jembatan dinamis di antara jemaat-jemaat dan Majelis Sinode yang berkedudukan di Jakarta.